Di training motivasi pendidikan, kadang saya bercerita tentang profesi dan posisi guru.
Profesi dan posisi guru itu menyenangkan. Setidaknya, membuat Anda awet muda (karena selalu berinteraksi dengan manusia), senantiasa dikenang, dan sarat amal jariyah.
Saya pribadi berusaha menghubungi bahkan menemui guru-guru yang pernah mengajar saya. Karena teramat besar jasa mereka kepada saya. Begitulah, jasa mereka selalu dikenang.
Sebenarnya saya pun seorang guru. Itulah takdir saya. Hanya saja, predikatnya sedikit berbeda. Namanya motivator. Kedengaran lebih keren ya? Hehehe, sama saja.
Dengan izin Allah, saya pernah berseminar di Tokyo Institute of Technology, Osaka University, KAIST (Korea), Australian National University, Melbourne University, Curtin University, Queensland University, dan Al-Azhar University (Mesir). Mengajar.
Kenapa saya mengajar? Pertama, berinteraksi dengan manusia. Jangan salah, tidak semua profesi berinteraksi intens dengan manusia. Kedua, sarat dengan amal jariyah. Dan masih banyak alasan lainnya.
Sekiranya kita bukan guru, yah nggak apa-apa. Namun tetaplah melibatkan diri dalam kegiatan keilmuan. Misalnya, sebagai donatur di sekolah, donatur di pesantren, peneliti, dan lain-lain. Buat apa? Yah itu tadi, meraih amal jariyah.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Training Motivasi, Ippho Santosa, Training Motivasi Karyawan, Training Motivasi Organisasi
Training Motivasi
Di training motivasi, kadang saya melihat kemalasan pada beberapa peserta.
Inilah pesan saya kepada mereka.
Males kerja? Males ngantor?
Di mana-mana saya sering mengingatkan bahwa #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.
Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
training karyawan, training korporat, training terbaik, training centre, training provider
Training Motivasi
Di training motivasi, saya sering mengajak peserta untuk berbakti.
Namun demikian, kalaupun Anda telah berbakti kepada orangtua
terutama ibu, jangan buru-buru menepuk dada, jangan buru-buru berbangga.
-
Fasilitas lengkap
yang Anda berikan kepada ibu Anda, tidak akan sanggup mengganti darah yang
telah ia korbankan manakala melahirkan Anda.
- Uang jutaan yang Anda berikan kepada ibu Anda, tidak akan sanggup
mengganti ASI yang telah ia berikan manakala membesarkan Anda.
-
Coba bayangkan,
misalnya sekarang Anda idiot, cacat, atau menderita penyakit yang menjijikkan.
Adakah orang yang mau mendampingi Anda? Kemungkinan tidak ada, kecuali ibu Anda!
Mari tingkatkan bakti kita.
Training Motivasi
Di training motivasi dan seminar motivasi, saya sering mengucapkan kalimat ini.
"Berbakti mengundang rezeki. Durhaka mengundang petaka."
Ketika
kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang
terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka
selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita
memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka?
Yang
ada, kita malah menomorduakan mereka. Biasanya rumah, makanan, dan pakaian kita
jauh lebih baik daripada orangtua. Kita sering masuk ke restoran ini-itu,
sementara orangtua jarang-jarang. Kita sering berlibur ke mana-mana, sementara
orangtua jarang-jarang.
Daripada tersinggung lebih baik berubah. Mari tingkatkan bakti kita.
training motivasi, training SDM, training karyawan
Training Motivasi Organisasi
Di training motivasi organisasi, saya sering bertanya kepada peserta.
Mana yang lebih besar? Semangatmu? Atau alasanmu? Kalau alasan yang dipilih, tentulah sudah ketebak gimana nasibmu. Gitu-gitu melulu.
Beralasan dan bermalasan itu dekat sekali dengan sikap 'menyerah'. Ujung-ujungnya, gagal dan terjungkal.
Menyerah, itu BUKAN menunjukkan besarnya HAMBATAN, tapi itu cuma menunjukkan besarnya alasan dan kemalasan.
Jangan malas. Yang nyaman belum tentu baik. Yang serba menantang juga belum tentu baik. Apa yang membuatmu bertumbuh, itu yang terbaik.
Jangan malas. Tak perlu membandingkan sukses kita dengan orang lain. Nggak akan ada habis-habisnya. Bandingkan saja dengan pencapaian kita tahun sebelumnya.
Jangan malas. Orang -orang yang percaya pada KEINDAHAN IMPIAN dan keindahan masa depannya, mana mungkin bermalasan?
Jangan malas. Sukses yang dilandasi dengan kegigihan dan kejujuran, akan lebih langgeng. Bahkan orang tersebut akan lebih dihargai daripada kesuksesan dan pencapaiannya.
Sukses dan keberuntungan berpihak pada mereka yang terus-menerus mencoba, terus-menerus belajar, dan terus-menerus beramal.
Share tulisan ini kalau Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Training Motivasi Terbaik
Mana yang lebih besar? Semangatmu? Atau alasanmu? Kalau alasan yang dipilih, tentulah sudah ketebak gimana nasibmu. Gitu-gitu melulu.
Beralasan dan bermalasan itu dekat sekali dengan sikap 'menyerah'. Ujung-ujungnya, gagal dan terjungkal.
Menyerah, itu BUKAN menunjukkan besarnya HAMBATAN, tapi itu cuma menunjukkan besarnya alasan dan kemalasan.
Jangan malas. Tak perlu membandingkan sukses kita dengan orang lain. Nggak akan ada habis-habisnya. Bandingkan saja dengan pencapaian kita tahun sebelumnya.
Jangan malas. Orang -orang yang percaya pada KEINDAHAN IMPIAN dan keindahan masa depannya, mana mungkin bermalasan?
Jangan malas. Sukses yang dilandasi dengan kegigihan dan kejujuran, akan lebih langgeng. Bahkan orang tersebut akan lebih dihargai daripada kesuksesan dan pencapaiannya.
Sukses dan keberuntungan berpihak pada mereka yang terus-menerus mencoba, terus-menerus belajar, dan terus-menerus beramal.
Share tulisan ini kalau Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Training Motivasi Terbaik
Training Motivasi Kerja, Training Motivasi Terbaik
Training motivasi kerja atau training motivasi diri sepertinya semakin diperlukan. Mau bukti?
Lihat saja. Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114).
Begitu pula jika kita melihat struktur angkatan kerja di Indonesia. Sebanyak 55,3 juta (46,8 persen) lulusan Sekolah Dasar (SD). Semakin jelas, Indonesia sangat memerlukan training motivasi terbaik. Apa pendapat Anda?
Lihat saja. Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114).
Begitu pula jika kita melihat struktur angkatan kerja di Indonesia. Sebanyak 55,3 juta (46,8 persen) lulusan Sekolah Dasar (SD). Semakin jelas, Indonesia sangat memerlukan training motivasi terbaik. Apa pendapat Anda?
Training Motivasi Kerja, Training Motivasi SDM
Training motivasi kerja, tepatnya training motivasi SDM, semakin diperlukan. Ada kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk segera mempercepat pembangunan manusia, agar tidak semakin tertinggal dengan negara lain.
Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114).
Demikian pula jika kita melihat struktur angkatan kerja Indonesia. Sebanyak 55,3 juta (46,8 persen) lulusan Sekolah Dasar (SD).
"Kita menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Persaingan dalam pasar tenaga kerja menjadi lebih luas dan menuntut kualitas SDM yang lebih prima dan lebih bersaing," ujar salah satu dosen IPB yang dikutip oleh Okezone.
Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF, 2014), peringkat daya saing Indonesia berada pada peringkat 38 dan masih lebih rendah bila dibandingkan dengan beberpa negara tetangga seperti Singapura (peringkat 2), Malaysia (peringkat 24), dan Thailand (peringkat 37).
Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, tentu saja potensi yang dimiliki bangsa ini justru akan dimanfaatkan oleh negara lain. Indonesia hanya akan menjadi penonton dan pasar bagi surplus produksi negara-negara lain juga akan memicu neraca perdagangan Indonesia menjadi semakin terpuruk.
Salah satu kualitas SDM yang sampai saat ini belum banyak disentuh adalah menyangkut aspek mental budaya kerja. Di sektor swasta, pada umumnya telah tercipta budaya kerja yang baik. Sehingga perubahan mindset akan difokuskan pada birokrasi pemerintahan. Tujuan utamanya adalah menciptakan birokrasi yang mampu menunjang daya saing nasional.
Sepertinya Indonesia sangat memerlukan training motivasi terbaik. Apa pendapat Anda?
Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-121 dari 187 negara. Kita berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 18), Malaysia (peringkat 64), Thailand (peringkat 103), dan Filipina (peringkat 114).
Demikian pula jika kita melihat struktur angkatan kerja Indonesia. Sebanyak 55,3 juta (46,8 persen) lulusan Sekolah Dasar (SD).
"Kita menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Persaingan dalam pasar tenaga kerja menjadi lebih luas dan menuntut kualitas SDM yang lebih prima dan lebih bersaing," ujar salah satu dosen IPB yang dikutip oleh Okezone.
Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF, 2014), peringkat daya saing Indonesia berada pada peringkat 38 dan masih lebih rendah bila dibandingkan dengan beberpa negara tetangga seperti Singapura (peringkat 2), Malaysia (peringkat 24), dan Thailand (peringkat 37).
Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, tentu saja potensi yang dimiliki bangsa ini justru akan dimanfaatkan oleh negara lain. Indonesia hanya akan menjadi penonton dan pasar bagi surplus produksi negara-negara lain juga akan memicu neraca perdagangan Indonesia menjadi semakin terpuruk.
Salah satu kualitas SDM yang sampai saat ini belum banyak disentuh adalah menyangkut aspek mental budaya kerja. Di sektor swasta, pada umumnya telah tercipta budaya kerja yang baik. Sehingga perubahan mindset akan difokuskan pada birokrasi pemerintahan. Tujuan utamanya adalah menciptakan birokrasi yang mampu menunjang daya saing nasional.
Sepertinya Indonesia sangat memerlukan training motivasi terbaik. Apa pendapat Anda?
Langganan:
Postingan (Atom)








