Training Korporat, Training Motivator, Training Nasional
Di sebuah training korporat, saya membahas konsep berbagi. Tiba-tiba saja, salah seorang peserta nyeletuk, "Sedekah kok ngarep?"
Di sebuah training korporat, saya membahas konsep berbagi. Tiba-tiba saja, salah seorang peserta nyeletuk, "Sedekah kok ngarep?"
Begini. Dalam sholat saja, kita
boleh ngarep. Coba ingat-ingat doa kita saat duduk di antara dua sujud...
Ngarep? Iya. Ngarep apa? Mulai dari petunjuk, kesehatan, sampai rezeki. Dalam
sholat saja boleh ngarep, masak dalam sedekah nggak boleh, hehehe...
Ketika kondisi normal,
mungkin kita nggak ngarep. Kebayang kondisi lagi susah? Anak sakit. Utang
melilit. Bisnis pailit. Masalah rumit. Darurat nih. Mau ngarep kemana lagi? Woy, jawab woy!
Orang biasa kalau pengen apa-apa, cuma ikhtiar. Kita mah beda, berikhtiar
sekalian berdoa dan beramal. Ini keren apa keren banget?
Masih ingat kisah tiga
pemuda yang terkurung di gua? Itu kondisi sulit. Darurat. Lalu, apa yang mereka lakukan,
setelah nyobain ini-itu? Tawasul. Ngarep. Berharap 'cairnya fadilah' dari amal
mereka. Pemuda pertama, berharap dari fadilah berbakti. Yang kedua, berharap
dari fadilah menjaga diri. Yang ketiga, berharap dari fadilah menunaikan amanah...
Tawasul dan ngarep itu Allah kabulkan…
Ingat ya:
- Berharap kepada-Nya = berdoa
- Berharap kepada-Nya = bukti iman
- Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk
- Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena
itulah yang Dia perintahkan.
- Bagus tho, itu semua menjadi amal tersendiri. Salahnya
di mana? Di Hongkong? Hehehe.
Dia yang nyuruh kita
berharap. Nabi juga bilang 'Beli kesulitanmu dengan sedekah'. Lha, giliran kita
ngarep, kok jadi salah? Nggak dong. Bener, insya Allah. Kan Dia bukan PHP.
Emangnya situ, suka PHP? Hehe. Kalau ngarep ke makhluk, itu yang dilarang. Apalagi ke tuyul, hehehe… Sekiranya
anda beda pendapat sama saya, silakan. Yang penting, anda tetap sedekah. Itu
yang penting.
"Mas Ippho rajin
sedekah nggak? Apa cuma ngomong mulu? Apa cuma jualan ayat?" Hehe. Nggak
perlu mengaudit-audit amal orang lain. Mulai saja dari diri sendiri. Btw, saya
memang sering ‘jualan ayat’ Setidaknya, terbukti pada tulisan ini. Jualan ayat?
Iya, dalam artian menyampaikan ayat-Nya terus berharap upah dari-Nya. Boleh
insya Allah. Ada ayatnya.
Sedekah, terus ditunjukin
ke orang lain, apa boleh? Itu mah tergantung niat. Sebagian kita, sudah dikasih
contoh saja, masih pelit dan takut-takut. Gimana kalau nggak dicontohin? Hehe.
Nabi dan sahabat juga pernah sedekah terang-terangan. Lagi pula, setidaknya ada
lima ayat yang membolehkan.
Dulu, Isa pernah menolong
orang sakit dan itu terlihat oleh orang banyak. Dulu, Buddha pernah menolong
orang susah dan itu terlihat oleh orang banyak. Apa situ berani ngatain Nabi
Muhammad, Isa, dan Buddha itu lagi pencitraan? Hehehe, awas kalau berani. Ntar
saya timpuk pakai sandal, hehe. Karena tindakan terang-terangan ini menjadi
syiar, motivasi, dan inspirasi bagi yang lain. Juga menjadi contoh yang baik
alias uswatun hasanah. Boleh, insya Allah.


