Di training motivasi atau training karyawan, inilah pesan saya, "Apapun tugas dan kerjamu sekarang, pastikan mengarah pada impian besarmu. Bukan soal seberapa cepat kita melangkah, tapi SEBERAPA TEPAT kita mengarah!"
Disebut impian jika sampai menggetarkan hatimu. Pagi demi pagi, ditunggu-tunggu. Sehingga menjadi penyemangat setiap hari, setiap minggu. Untuk melangkah maju, tak kenal ragu.
Impian yang besar dan luhur, layak diperjuangkan. Bahkan membuat kita bersemangat setiap harinya. Impian yang kecil? Jadinya yah malas-malasan. Tak heran kalau semangat pun turut mengecil.
Hebatnya lagi, impian yang besar menarik peluang-peluang besar. Bahkan dipertemukan dengan orang-orang besar. Seperti kebetulan, padahal bukan.
Satu hal lagi. Mereka yang berpikir besar relatif lebih sehat dan lebih bersemangat. Bagi Sang Pencipta, tak ada kerepotan sama sekali untuk mewujudkan impian yang besar.
Terakhir, selaraskan impian kita dengan visi dan misi perusahaan (korporat). Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Training Motivasi, Ippho Santosa, Training Motivasi Karyawan, Training Motivasi Organisasi
Tampilkan postingan dengan label Training Korporat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Training Korporat. Tampilkan semua postingan
Di Training Motivasi Karyawan (Pegawai), Ippho Santosa Ingatkan Soal Toleransi
Sebagian kita gampang menuduh
orang lain itu sesat atau bid’ah. Serasa telah memegang tiket ke surga, mereka
pun gampang me-neraka-kan orang lain. Alasan sempit mereka adalah, “Kalau Nabi
nggak pernah melakukan, berarti kita tidak boleh melakukan.” Sekilas, alasan
ini kayaknya tepat, padahal bisa benar bisa salah. Karena sebenarnya teramat
panjang penjelasan untuk menyimpulkan sesuatu itu benar apa salah.
Kadang guru saya iseng bertanya
kepada mereka, “Bapak punya mushaf Al-Qur’an? Yang buku atau yang digital? Atau
kedua-duanya?” Mereka mengangguk, mengiyakan kedua-duanya. Guru saya pun
melanjutkan, “Ternyata Nabi Muhammad tidak punya Al-Qur’an berbentuk buku apalagi
digital.” Lihat ya, Nabi tidak melakukan itu, lalu apakah kita jadi salah kalau
melakukan itu?
By the way, Nabi dan sahabat juga tidak pernah mendirikan
pesantren apalagi rumah tahfidz, hehehe.
Nabi juga tidak pernah
memperingati Halal bi Halal (apalagi bermaaf-maafan secara khusus ketika
Lebaran dan Halal bi Halal), Tahun Baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi,
Nuzul Qur’an, apalagi MTQ. Begini ya. Anda mungkin soleh, senantiasa mengingat
Nabi dan Al-Qur’an sepanjang waktu. Namun betapa banyak muslim di luar sana
yang lalai dan abai. Karena itulah mungkin perlu momentum seperti Tahun Baru
Hijriyah dan Nuzul Qur’an, untuk mengingatkan mereka akan Nabi dan
Al-Qur’an.
Jujur saja, dulu sewaktu remaja,
saya pernah menjadi orang yang lalai dan abai. Alhamdulillah, kemudian
teringatkan. Wasilahnya melalui momentum seperti Tahun Baru Hijriyah dan Nuzul
Qur’an yang diadakan oleh tetangga saya. Wong ada peringatan saja, sebagian
kita masih lalai dan abai, apalagi kalau nggak ada? Kebayang kalau nggak ada?
Sekarang, saya tanya Anda.
Bolehkah Anda mengumpulkan orang-orang setiap Senin atau setiap Kamis, lalu
Anda bercerita tentang perjuangan Nabi? Insya Allah boleh. Bolehkah Anda
mengumpulkan orang-orang setiap 17 Agustus, lalu Anda bercerita tentang
perjuangan Nabi? Masih boleh. Bolehkah Anda mengumpulkan orang-orang setiap
awal tahun Hijriyah atau hari kelahiran Nabi, lalu Anda bercerita tentang
perjuangan Nabi? Hehehe, adalah aneh kalau jawabannya jadi nggak boleh.
Sekiranya ada orang yang berbeda pendapat, saya cuma berharap ia mau dan mampu
untuk saling menghormati.
Yang saya pelajari, kita tidak
boleh menambah-nambahkan sesuatu pada ibadah-ibadah yang telah diatur secara
khusus (tasyri’). Misalnya, sholat subuh yang harusnya dua rakaat, eh kita
tambah-tambahi jadi empat rakaat. Salam di akhir sholat yang harusnya dua kali,
eh kita tambah-tambahi jadi empat kali. Sholat berbahasa Jawa. Azan berbahasa
Padang. Jelas tuh, ngawur bin ngaco. Ada yang nyeletuk, "Mas Ippho, ikut
pendapat ulama dong!" Soal memperingati, para ulama berbeda pendapat. Yah,
saya ikut pendapat ulama yang membolehkan saja.
Sekiranya anda tidak mau
memperingati hari lahirnya Nabi, yah silakan. Tentu, anda punya alasan. Yang
penting, konsisten ya. Jangan juga anda memperingati (apalagi
menghadiri) Tahun Baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj, dan Nuzul Qur’an. Jangan
pula anda mengingat-ingat hari lahir anak anda, kantor anda, atau usaha anda. Apabila
anda konsisten, tentu orang lain akan menghargai pilihan dan keputusan anda.
Semoga kita semua termasuk
orang-orang yang hatinya diberi petunjuk dan diberi kelapangan tatkala melihat
perbedaan.
Ditulis oleh Ippho Santosa. Untuk mengundang beliau, klik >> www.ippho.com
Training SDM, Training Karyawan, Training Motivasi
Di training motivasi atau training SDM, kadang saya menyentuh sisi spiritual mereka.
Di lagu anyar Wiz Khalifa disampaikan pentingnya peran persahabatan dan persaudaraan. Itu betul. Cuma, perlu juga kita tambahkan. Ada peran Yang Maha Kuasa, yang berada di atas segala-galanya. Ingatlah baik-baik, bilamana perintah Tuhan telah diabaikan dan spiritual love telah dilalaikan, amat mungkin orang itu terperosok pada cinta yang salah, cinta yang menyusahkan...
Di lagu anyar Wiz Khalifa disampaikan pentingnya peran persahabatan dan persaudaraan. Itu betul. Cuma, perlu juga kita tambahkan. Ada peran Yang Maha Kuasa, yang berada di atas segala-galanya. Ingatlah baik-baik, bilamana perintah Tuhan telah diabaikan dan spiritual love telah dilalaikan, amat mungkin orang itu terperosok pada cinta yang salah, cinta yang menyusahkan...
Katakanlah:
-
Maunya sih mencetak prestasi dan aktualisasi
diri (rational love). Namun lupa sama
larangan-larangan Yang Maha Kuasa dan ujung-ujungnya malah menyikut teman
sekantor, menelikung mitra bisnis, dan lain-lain. Maka berubahlah rational love itu menjadi cinta yang
salah. Cepat atau lambat saja, pastilah menyusahkan.
- Maunya sih
membuat keluarga bangga dan bahagia (emotional
love). Namun lupa sama perintah-perintah Yang Maha Kuasa dan ujung-ujungnya
malah korupsi di kantor, suap di bisnis, dan lain-lain. Maka berubahlah emotional love itu menjadi cinta yang
salah. Cepat atau lambat saja, pastilah menyusahkan.
-
Bukalah mata Anda lebar-lebar, ternyata sejarah
besar hanya bisa diukir oleh orang-orang besar yang membawa cinta yang besar di
hatinya dan itulah spiritual love!
Satu lagi, contoh cinta yang salah. Sebagian pejabat dan pengusaha sibuk suap-menyuap di sana-sini,
karena kecintaannya pada tahta dan harta. Beginilah akibatnya kalau rational love tanpa spiritual love. Berawal dari cinta yang salah, akhirnya ia malah dicurigai
dan diperiksa di sana-sini. Sekali lagi, sejarah besar hanya bisa diukir
oleh orang-orang besar yang membawa cinta yang besar di hatinya dan itulah spiritual love!
Demikianlah, cinta yang benar akan menyukseskan. Sebaliknya, cinta yang salah akan menyusahkan. Sesederhana itu. Sungguh, dunia ini bukan dihancurkan oleh nuklir dan kapitalisme, melainkan oleh keserakahan. Sungguh, dunia ini memadai untuk miliaran manusia, namun tidak akan memadai untuk satu orang yang serakah. Nah, hebatnya cinta tepatnya Spiritual Love, mampu mengikis ketidakpedulian dan keserakahan. We Found Love, istilah Rihanna. Power of Love, istilah Celine Dion.
Ippho Santosa adalah International Trainer yang telah mencerahkan seratusan perusahan dan jutaan orang di belasan negara di empat benua. Buku terbarunya berjudul Success Protocol. Untuk mengundangnya dalam in-house training atau training karyawan, klik >> www.ippho.com
Langganan:
Postingan (Atom)



